Berjaga-jaga Merupakan Sikap Bijaksana

Oleh: Fr. Yosep Jeno, Pr.

HARI ini kita memasuki Masa Adven Pekan Pertama. Apa itu masa Adven? Masa adven adalah masa di mana kita diajak untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan. Kata Adven berasal dari kata Latin “adventus” yang berarti: kedatangan. Selama masa adven, kita menantikan-nantikan kedatangan Tuhan. Dalam menantikan kedatangan Tuhan, Gereja mengajak kita untuk tidak bersikap pasif, tetapi aktif. Konkretnya, kita diajak untuk berjaga-jaga dalam semangat kasih, iman dan pengharapan.

Di jaman sekarang, “berjaga-jaga” menantikan pemenuhan sebuah janji sering kali sangat membosankan dan menjengkelkan. Mengapa? Di samping begitu lama pemenuhannya, pribadi yang berjanji juga acapkali begitu mudah mengingkari janji yang telah diikrarkan. Begitulah, janji-janji yang diucapkan dan diikat antar manusia bisa saja tidak pernah ditepati. Lain halnya kalau kita berbicara tentang janji Allah. Jika Allah yang berjanji, maka Ia pasti akan menepatinya. Allah tak pernah membuat kita kecewa.

Dalam bacaan pertama yang Gereja bacakan hari ini, Nabi Yesaya mengingatkan kita akan kedatangan Tuhan sebagai “hakim” dan “wasit” bagi bangsa-bangsa (Lih. Yes 2:1-5). Dalam menantikan kedatangan Tuhan, Nabi Yesaya menekankan pentingnya keadaan yang aman, damai dan sejahtera. Agar situasi dan kondisi itu terwujud, menurut Nabi, kekerasan mesti dihentikan. Konkretnya, peralatan perang mesti beralih fungsi menjadi peralatan pertanian, seperti pedang ditempa menjadi mata bajak. Sementara itu, dalam bacaan kedua Santo Paulus menyampaikan beberapa hal yang perlu kita kedepankan dalam menyikapi kehadiran Tuhan, seperti sikap percaya, bisa membagi waktu, sopan, menghindari pesta pora dan mabuk-mabukan serta tidak melakukan perbuatan cabul (Lih. Rm 13:11-14). Selaras dengan pesan ini, Matius dalam Injilnya menekankan pentingnya sikap siap-sedia (Lih. Mat 24:37-44). Mengapa? Karena di dalamnya termuat sikap pelayanan dan tanggung jawab terhadap Allah sampai pada kedatangan Anak Manusia. Dalam berjaga-jaga, Allah menuntut kita untuk bertobat, berdamai, mau memahami dan menerima sesama serta memaafkan dan toleran terhadap sesama.

Pendek kata, warta Sabda hari ini mau mengajak kita mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan. Apa yang perlu kita lakukan? Selalu berjaga dan siap-sedia. Keadaan “berjaga” itu mesti kita wujudkan baik dalam perkataan maupun perbuatan. Sementara sikap “siap-sedia” yang perlu kita pupuk di antaranya adalah bertobat dari perbuatan yang jahat dan menghindari praktek-praktek yang dapat menghalangi kita untuk menyambut Tuhan. Dalam berjaga-jaga di masa Adven ini, kita perlu mengedepankan sikap rendah hati. Mengapa? Karena kita ini begitu terbatas, kita tidak tahu dengan pasti saatnya Tuhan datang. Bahwa Tuhan akan datang itu pasti, hanya kita tidak tahu kapan hari itu tiba. Yang jelas, Tuhan datang karena Ia mau menyelamatkan kita, umat-Nya. Kedatangan Tuhan itu tidak terbatas pada rencana saja, tetapi sungguh-sungguh dipenuhi. Sejarah keselamatan sebagaimana diwartakan oleh para penulis suci dalam Kitab Suci membuktikan kebenaran itu.

Karena itu, Masa Adven ini harus kita jalani dengan benar. Salah satu caranya adalah dengan bertobat dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan semangat kasih, misalnya tidak peka terhadap sesama serta menjadi pemecah-belah di dalam kelompok atau komunitas. Hanya dengan bertobat, dan itu berarti perubahan sikap dan praktek hidup, kita akan menjadi kediaman yang layak dan pantas bagi Tuhan.

Tuhan datang hendak membebaskan kita dari perbudakan kuasa dosa, penderitaan dan “kematian”. Bersediakah kita dibebaskan? Semoga dalam masa penantian akan kedatangan Tuhan ini, kita sungguh-sungguh “berjaga” dan mewujud-nyatakannya baik dalam keluarga, komunitas, lingkungan dan masyarakat luas. Amin.**
http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Khatolik&id=147046

Tinggalkan Balasan